Gw termasuk salah satu insan yg menjadikan bioskop sebagai tempat hiburan terakhir. Jika memang cuma itu pilihan terakhir. Ya. Dan kemarin. Amudi, yg diajak Simon, memprovokasi gw nonton. Antara 2 pilihan. Mr. Bean’s Holiday. Nagabonar jadi 2. Film nagri. Film lokal.
Awalnya, gw nolak. Tapi, terpikat bujuk rayu gw pun setuju. Cuma ceban, 10000. Nagabonar jadi 2. Sepakat.

Gw pernah nonton nagabonar yg pertama. Bukan nonton, tapi cuma sekilas 15 menit lah. Tapi, ga masalah karena ceritanya ternyata tidak terikat banyak dengan seri pertamanya. Latar film diambil di daerah Medan dan Jakarta. Nagabonar (Deddy Mizwar), seorang pencopet sekaligus jenderal jaman kemerdekaan yg sudah berumur, punya anak cowo diberi nama Bonaga (Tora Sudiro).
Bonaga, seorang pengusaha muda real estate yg mapan, ganteng, mempunyai “3 tangan kanan kepercayaan (pomo (Darius Sinathrya), ronnie (Uli Herdinansyah), jaki (Michael Muliadro))”, dan seorang cewe bernama Monita (Wulan Guritno) yg senantiasa dekat dengannya sebagai konsultan bisnis. Konflik yg coba diungkit di film ini adalah Bonaga mendapatkan tawaran proyek gede dari pengusaha Jepang untuk membangun resort mewah yg kebetulan berlokasi di kebun kelapa sawit milik ayahnya. Lebih kebetulan lagi karena kubur ibu, nenek, dan sahabat ayahnya tepat di lokasi yang maksud. Karena itulah, Bonaga mengajak ayahnya, Nagabonar ke Jakarta untuk membicarakan masalah ini. Nagabonar sangat mencintai ketiga orang tadi (eh, bukan yg 3 kroconya si Bonaga loh). Dan tentu saja dia berusaha menolak rencana pembangunan itu.
Tidak cuma masalah ini yg dihadapi oleh Bonaga, tapi juga (tentu saja) dengan Monita. Bonaga ditokohkan mempunyai karakter persis sama dengan ayahnya, tidak terkecuali jika harus berhadapan dengan wanita. Padahal rasa cinta itu sudah ada, cuma Bonaga tidak berani mengungkapkan.
Beberapa adegan yg masih gw ingat:
1. Nagabonar memberikan penghormatan kepada patung Soeharto, Jendral Sudirman, juga sewaktu di taman makam pahlawan. Oh, bulu kuduk gw ampe berdiri. Dah lama bgt gw ga denger lagu2 kebangsaan Indonesia.
2. Monita ngaku ke Nagabonar bahwa dia mencintai Bonaga. Parahnya, begitu Bonaga datang, ayahnya langsung nyerocos, “tadi Monita bilang ke ayah kalo …”. Hahaha.
3. Bonaga ke apartemen Monita dipaksa oleh ayahnya untuk mengungkapkan isi hatinya. Tapi, begitu sampai di sana, yang ada hanya kekakuan seorang eksmud rupawan face-to-face dgn cewe pujaannya.
…
…
“ehh ehh…”, Bonaga gregetan tidak berani menatap Monita.
“mo ngomong apa sih, ini dah jam 11 loh”
“oh eh, itu, ya itu, mo bilang klo dah jam 11. Selamat tidur ya.”
“eh?”
Salah satu kelebihan film ini, sekaligus kelemahan terbesar, menurut gw, adalah Deddy Mizwar. Beeeh, aktingnya itu, ga ada tandingannya. Semua scene terasa hidup. Adegan lucu, lucu semampus2nya. Pas sedih, nangis nangis deh lo. Sampai2, pemeran lainnya seolah-olah cuma manekin hidup yg berdiri mengagumi tingkah-pola-ucapan-gerak si aktor. Gw ga bilang klo akting pemain lainnya jelek loh. Cuma serasa one man show.
Kelebihan lain adalah kayaknya ini satu2nya film produksi dalam negeri dalam 5 tahun terakhir yang mampu menghadirkan genre drama-komedi dengan bumbu cinta dan nasionalisme. Dan dengan timing yg tepat di saat industri film kita dibanjiri film2 horor. Sang sutradara (Deddy Mizwar) tampaknya ingin menunjukkan perbedaan paradigma pemikiran jaman dulu dan sekarang, sekaligus menggali kembali “cinta” yang hilang di tengah2 realitas bangsa saat ini. Cinta di sini universal. Cinta ayah anak, cinta keluarga, cinta lawan jenis, dan terutama sekali cinta Indonesia.
Klo bicara sinematografinya, gw ga gitu ngerti. Yg gw liat sih semuanya baik2 aja. Overall, film ini wajib lo tonton. 2 film terakhir yg gw nonton ketiduran, tapi ini tidak. Untuk sebuah film Indonesia, gw kasih 8+1 dari 10. 1 poin tambahan untuk faktor ceban, hehehe.



